Actions

Work Header

Serangan Tengah Malam

Work Text:

Atsumu melangkah keluar kamar dengan waswas.

 

Satu langkah di luar pintu, toleh kepala ke kanan. Satu langkah lagi, toleh kepala ke kiri. Dua langkah, tiga langkah, begitu terus sampai ia tiba di belokan menuju dapur tercinta. Dalam gelapnya lorong kontrakan (karena sudah tengah malam, bukan karena mati lampu—mereka bayar tagihan listrik selalu tepat waktu, demikian sekilas info!), Atsumu mengendap-endap mendekati meja makan.

 

Seingatnya, masih ada sebungkus mie goreng dan beberapa butir telur di dapur. Bukan milik siapa-siapa, jadi siapapun bebas mengklaim jatah mie instan terakhir itu. Karena itulah, sebelum ada serangan fajar (karena ada penghuni kontrakan yang sarapan setengah jam setelah azan subuh berkumandang), Atsumu menguatkan hati untuk melakukan serangan tengah malam.

 

Tinggal selangkah lagi menuju tempat penyimpanan mie instan—

 

Klik.

 

“Nyariin apa, Atsumu?”

 

Atsumu membeku di tempat, tidak sanggup bergerak sedikitpun, bahkan untuk melirik ke sumber suara. Yang kini berdiri tepat di belakang punggungnya. Yang tengah menegaskan dominasi atas dapur dan menegakkan salah satu aturan kontrakan: dilarang makan mie instan tengah malam. Aturan tersebut dibuat Kita Shinsuke berdasar alasan kesehatan. Maklum, namanya juga (mantan) gebetan rasa emak-emak khawatiran.

 

Gugup, Atsumu nyengir sambil garuk-garuk kepala. Namun demikian, ia tidak berkata apa-apa.

 

Kita, yang sudah bisa menebak tujuan Atsumu mampir ke dapur tengah malam seperti ini, geleng-geleng tanpa suara. “Tidur, Atsumu. Besok ada kuliah pagi, ‘kan?”

 

“Um, masuknya jam setengah sembilan, kok~”

 

“Kamu biasanya ‘kan bangun jam setengah sepuluh, habis azan subuh tidur lagi.”

 

“Tapi Kita-san~” Atsumu masih mengimut-imutkan suara, mencoba kabur dari hukuman dan menjangkau mie instan targetnya. Perutnya sudah keroncongan ini…

 

“Atsumu. Tidur. Nanggung, berapa jam lagi sarapan.”

 

“Kita-san, selain Suna, enggak ada lagi yang sarapan jam lima pagi. Kalau aku tidur sekarang, ntar mie-nya dimakan Suna terus aku enggak kebagian terus—“

 

“Atsumu.”

 

Satu kata penuh penekanan itu membuat Atsumu menggugurkan niatnya dalam sekejap. Ia segera ambil langkah seribu kembali ke kamar, mengucapkan, “Tidur duluan Kita-san mimpi indah yaaak!”, lalu menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak ingin melihat penampakan Kita-san yang marah jam segini, terima kasih banyak!

 

(saking laparnya Atsumu, ia sampai mimpi makan mie goreng dengan kuning telur rebus yang utuh. Sayang seribu sayang, impiannya hancur ketika bangun keesokan harinya…)