Actions

Work Header

bangkai musim panas

Work Text:

Kala itu Agustus. Kala itu hujan. Angkutan kota yang ia tumpangi terjebak di tengah banjir dan para penumpang terpaksa keluar kecuali mereka mau tenggelam. Ia mengabaikan ragam keluhan mengenai pakaian basah dan kurang tidur sembari berusaha menyeberang ke pinggir jalan. Ia memeras air keluar dari celananya, menunggu di trotoar bersama banyak lainnya hanya untuk mendengar kabar bahwa tidak mungkin angkutan kota dapat beroperasi dalam keadaan seperti ini.

“Ya, ampun." Seseorang menguap. "Ngantuk banget.”

“Kita kepagian, masa. Mana Ibuku sudah sampai di kantornya pula...”

“Ih, kaos kakiku basah.”

"Weh, gaada upacara bendera!”

Gawai mereka bersiul-siul, jari mereka menari tap tap tap. Semua orang lebih memilih untuk berada di rumah dan bermesraan dengan guling mereka. Jiang Cheng adalah orang.

Ia melihat pertigaan yang mengarah ke sekolahnya. Ia menggulung celananya dan mulai berjalan. Sekali-kali sepatunya kemasukan air dan ia mendecak jengkel. Sekali-kali mobil lewat dan menciprat wajahnya. Jiang Cheng mengutuk tujuh turunan mereka semua.

Gawainya bergetar. Wei Wuxian memberi kabar bahwa, “rumahku tenggelaaam” dan “A-CHENG AKU GABISA LIAT LAN ZHAN HARI INI DDD:”

Jiang Cheng membalasnya dengan, “kasihan deh lo.”

Nie Huaisang terus memberikan laporan perdana tentang keadaan di sekolah: tempat parkir motor guru 96% kosong; tempat parkir motor murid 81% kosong; tempat parkir mobil hanya terisi satu slot; Luo-laoshi tidak menjual donat; Ouyang-laoshi sedang bersiap-siap menyalakan bel meskipun jumlah murid yang hadir tidak sampai 4 dari 24 kelas.

btw [7.07 AM]
aku ketemu biawak dijalan [7.08 AM]

[7.08 AM] masa

yap [7.08 AM]
dia kabur pas kudeketin [7.09 AM]
aku ada gambar dia [7.09 AM]
[picture attached] [7.09 AM]

[7.09 AM] kek doggo
[7.11 AM] aku dah sampe
[7.12 AM] huaisang
[7.14 AM] kAMU DIMANA

[picture attached] [7.15 AM]

Jiang Cheng melihat gambar kumpulan gorengan yang dijual suami Luo-laoshi dan mendengus, bayangan senyuman menghantui mulutnya.

***

Kala itu pukul 7.15 pagi dan bel upacara berbunyi. Kau dapat menghitung jumlah orang yang berlalu-lalang dengan dua tangan. Jiang Cheng melakukannya hingga ia bertanya-tanya mengapa ia melakukannya sebelum naik menuju Ruang 14 dan bersandar pada tembok yang menahannya agar tidak jatuh menghantam semen. Ia melihat Jin Zixun keluar dari kantin membawa dua pisang cokelat di satu tangan dan biskuit keju goreng di tangan lainnya. Anak itu tidak tahu konsep higenitas.

Ia melihat Kepala Sekolah Yao pura-pura sibuk, mengetes mikrofon untuk upacara yang tidak akan terjadi.

Ia melihat Lan Wangji keluar dari UKS dan mengangguk ke arahnya. Jiang Cheng menatapnya hingga ia pergi.

Ia turun dan pergi ke kelasnya. Tidak ada yang menyalakan lampu. Beberapa teman sekelasnya hadir, duduk di kursi mereka masing-masing, sinar layar gawai menerangi wajah mereka. Seseorang telah menarik kursi ke pojok kelas—punggungnya melawan dunia, rambutnya mengekor pendek, penyuara telinga membawa musik hingga ke pintu kelas.

Jiang Cheng menyibak gorden sebelum menepuk bahunya. “Hei.”

Nie Huaisang memutar kepalanya dan nyengir. “Cheng-ge! Sudah sampai—eh, astaga.” Satu lirikan ke seluruh tubuhnya dan Nie Huaisang merengut tidak senang. “Celanamu basah. Jangan digulung, nanti ga kering-kering. Sini, letakkan sepatumu di dekat jendela.”

Setelah empat argumen dan dua jaket melapisi kakinya yang dingin, Jiang Cheng menarik kursi mendekati temannya, sebuah meja memisahkan mereka.

“Aku sedang membuat mawar,” Nie Huaisang memberitahunya.. Ia tunjukkan karyanya yang setengah jadi, lalu layarnya. Ia berikan selembar kertas lipat kepada Jiang Cheng dan mengulang videonya dari awal. Jiang Cheng lihat videonya berdurasi... lama. Jiang Cheng lihat tidak ada tanda-tanda pelajaran akan dimulai. Ia lipat kertasnya menjadi dua, lalu tiga, lalu satu jam kemudian ia temukan mawar milik Huaisang sempurna.

Miliknya sobek di beberapa bagian.

Di banyak bagian.

Nie Huaisang tidak tertawa. Dia bilang, “Tidak apa-apa. Kita coba lagi saja—siapa tahu habis ini berhasil!”

Mereka belum seperempat jalan pada percobaan kedua sebelum Jiang Cheng melempar kertasnya sekuat tenaga dengan teriakan jengkel. Kertasnya jatuh satu meter di sampingnya dengan tuk pelan. Nie Huaisang tertawa.

***

Mereka merebahkan diri di lantai, lagu-lagu lokal mengisi kesunyian ruang kelas. Seseorang mendengus melihat sesuatu di lini masanya.

Seekor kucing memasuki ruang kelas; seseorang berseru kaget dan meminta Nie Huaisang untuk membawanya pergi. Ia gendong kucing tersebut dan meletakkannya di antara dirinya dan Jiang Cheng.

Menjelajah ruang yang megah
Mengarungi waktu yang entah
Menengadah ke langit yang pemurah
Pergi dari tanah yang rusak

“Aku suka lagu ini,” kata Huaisang.

Jiang Cheng mengelus kepala si kucing. Yang dielus memejamkan matanya. Jiang Cheng kira ia merasakan si kucing mendengkur.

'Kan ku ajak mereka yang merasa serupa
'Kan kujemput jiwanya di rumahnya

“Apa judulnya?” tanya Jiang Cheng.

Kita 'kan tinggalkan sauhnya
Dan abaikan kompasnya
Kita berlabuh di mana saja

Nie Huaisang tersenyum. "'Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak, dan Ditinggalkan.'"

Bel istirahat berbunyi. Wali kelas mereka menengok ke dalam dan mengatakan bahwa mereka yang datang hari ini akan mendapat nilai tambahan dalam pelajarannya. Seruan puas dan tepukan tangan dan harapan agar berhati-hati dalam perjalanan kembali ke rumah masing-masing dilempar ke semua yang mereka kenal.

“Pulang sendiri?” tanya Nie Huaisang. Ia kenakan helm-nya. Ia nyalakan motornya.

“Iya.” Kala itu masih pagi. Jiang Cheng akan naik bis dan mengambil rute yang lebih jauh dari biasanya. Toko-toko buku pasti baru buka. Matahari belum begitu panas. Pantai pasti masih sepi. “Sampai jumpa besok.”

Nie Huaisang mengedipkan satu matanya. Jiang Cheng sudah mendengar apa yang Nie Huaisang akan katakan sebelum ia mengatakannya. Jiang Cheng nyengir.

Kalau besok ada! ” kata Nie Huaisang. Deru mesin motornya membaur bersama puluhan lainnya.