Actions

Work Header

Our Bed Made of Clouds

Work Text:

Taehyung tidak terlalu tertarik dengan desain interior. 

Terkadang dia memang suka melihat ruangan-ruangan aesthetic yang muncul di majalah yang disediakan staff mereka di ruang tunggu ketika ia bosan. Tapi hanya begitu. Minat terbesarnya tetap jatuh pada seni klasik dan kontemporari serta fotografi.

Berbeda dengan Yoongi. Selain mencintai musik, Yoongi juga sangat mencintai apapun yang berbau dengan arsitektur, terutama desain interior. Bahkan dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat-lihat setting desain interior ataupun katalog IKEA. Yoongi bahkan tahu jenis-jenis lampu yang terpajang di toko furniture ketika mereka harus pergi membeli lampu baru untuk dipasang di ruang tidurnya.

Meskipun tidak terlalu paham, Taehyung tetap senang ketika melihat kekasihnya itu fokus dengan dunianya sendiri sambil asik membolak-balikkan majalah arsitek edisi terbaru yang disediakan staff mereka hari ini. Yoongi akan betah duduk terdiam di tempatnya tanpa menghiraukan kebisingan yang ditimbulkan para member dan staff di sekitarnya. 

Sungguh menggemaskan.

Setelah mereka selesai melakukan syuting hari itu, Taehyung bergegas melepaskan microphone yang terpasang di tubuhnya dan merebahkan dirinya di sofa ruang rekreasi Big Hit. Dilihatnya Yoongi di ujung sofa yang lain tengah memejamkan matanya dan menyender pada bahu sofa. Di sebelahnya, Namjoon tampak sedang fokus dengan ponselnya, mengerjakan aransemen atau mungkin sedang mengedit lirik untuk lagu terbaru mereka.

Taehyung bangkit dan menepuk bahu Namjoon. Pria itu mengalihkan pandangan dari ponselnya dan menatap Taehyung bingung. Taehyung hanya menggerakan tangannya, memberi tanda untuk Namjoon menggeser duduknya. Tanpa kata Namjoon pun beranjak dari tempatnya dan bergeser sedikit, memberikan Taehyung ruang untuk bisa duduk di sebelah Yoongi menggantikan posisinya.

Taehyung meletakkan tangannya di paha Yoongi dan mengelusnya, “Hyung, capek?” tanya Taehyung pelan. Tanpa membuka mata, Yoongi hanya berdeham mengiyakan.

“Besok jadwal kita kosong, mau jalan-jalan?”

Mendengar pertanyaan Taehyung, Yoongi membuka matanya sedikit untuk meliriknya. Ah, kekasihnya benar-benar kelelahan dan butuh sedikit refreshing. “Kemana?” tanya Yoongi pelan.

“Hmm kemana saja yang menyenangkan,” jawab Taehyung sambil menahan senyumnya.

Mendapati jawaban seperti itu Yoongi menghela napas kasar dan merengek pelan, “Ah, jawaban macam apa itu. Setiap ditanya kau selalu memberikan jawaban tidak jelas,” Taehyung hanya terkekeh pelan, dia suka sekali menggoda Yoongi seperti ini dan melihat ekspresi lucunya. “Heih, percaya saja padaku, hyung. Tidak perlu khawatir. Kita akan bersenang-senang besok dan kau akan suka dengan tempat yang kupilih.” ujar Taehyung sambil mengusap-usap kepala Yoongi lembut.

“Hmm, okay..”

--------

Hari ini sebenarnya Taehyung berencana untuk bangun lebih pagi daripada biasanya. Dia bahkan sudah memasang beberapa alarm sekaligus di ponselnya semalam. Namun, hingga dering alarm yang ketiga, dia tak kunjung bangun juga dan justru malah membangunkan Namjoon yang masih tertidur di seberangnya. 

Sejak tadi pria itu terus menggeliat di kasurnya, mencoba untuk terus melanjutkan tidurnya di tengah suara alarm Taehyung yang terus meraung-raung meminta untuk dimatikan oleh pemiliknya. Merasa tak tahan lagi, Namjoon memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan melempar selimutnya sembarangan ke lantai. Dengan masih dalam keadaan mengantuk, pria itu berjalan menyalakan saklar lampu kamar mereka sebelum menuju tempat tidur Taehyung dan mencoba membangunkannya. “Taehyung, matikan alarm mu,” ucap Namjoon pelan sambil menepuk bahunya.

Melihat Taehyung yang tetap tak bergeming, Namjoon makin keras menepuk dan mengguncang tubuh pemuda itu, “Kim Taehyung, astaga matikan alarm mu. Sekarang hari libur, biarkan aku tidur kembali dengan tenang.” ujar Namjoon.

Taehyung yang merasa tubuhnya diguncang terus-menerus mulai mengerjapkan matanya perlahan dan meregangkan tubuhnya. Matanya menangkap sosok Namjoon yang berdiri menjulang di samping tempat tidurnya, pria itu sekali lagi memintanya untuk mematikan alarmnya sebelum ia berbalik dan menjatuhkan diri di kasurnya sendiri. 

Taehyung yang mulai merasa terusik dengan bunyi alarmnya mencoba untuk meraba seluruh kasurnya dan mencari ponselnya yang terselip di antara bantal, guling dan selimutnya.

Setelah berhasil menemukan ponsel dan mematikan alarmnya, pemuda itu mengecek jam di lockscreen ponselnya. Sudah pukul 11:36 siang. Setiap hari libur seperti ini, biasanya para member selalu terbangun paling awal pukul 11 siang. Bisa bangun siang (atau bahkan sore) di hari libur seperti ini merupakan berkah tersendiri bagi mereka. Karna saat hari kerja, mereka harus bangun pagi-pagi sekali dan baru bisa pulang saat dini hari. 

Mau seberapa banyak pun uang yang mereka hasilkan dari bekerja, di dunia ini memang tak ada yang lebih baik daripada hari libur.

Beranjak dari kasurnya, Taehyung pun meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku sebelum kemudian memutuskan untuk langsung membersihkan diri sebelum makan siang.

Setelah selesai, pemuda itu berjalan menuju dapur di dorm mereka untuk mengambil minum dan mungkin makan siang sedikit sebelum kencannya dengan Yoongi. Saat melewati ruang televisi, dilihatnya Hoseok dan Jungkook yang sudah duduk di sana menyaksikan acara berita siang itu. Di sana, Hoseok yang ditempeli dan digelayuti oleh Jungkook terlihat sama sekali tidak terganggu dan sesekali mengusap-usap kepala Jungkook halus meskipun tubuh Jungkook terlihat sudah sangat lebih besar dari Hoseok sekarang. Tapi tidak ada di antara mereka yang merasa terganggu dengan perubahan itu. Bagi Hoseok, Jungkook tetaplah adik kecil kesayangannya yang akan selalu dia manja mau sebesar dan setua apapun Jungkook nanti.

Sedangkan di ruang makan, dia melihat Seokjin yang tengah duduk di meja makan sendirian sambil memakan ramen dan memainkan ponselnya. Sementara Yoongi, di dapur terlihat dia sedang sibuk memasak sesuatu hingga tidak menyadari kehadiran Taehyung. Mereka berdua terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan terlihat menikmati keheningan yang melingkupi mereka.

Setelah membasahi tenggorokannya dengan air dingin, Taehyung menghampiri Yoongi dan merengkuh pinggul pemuda itu dan mengintip masakan di hadapan Yoongi dari balik bahunya. Yoongi yang mendadak mendapati pinggulnya direngkuh tersentak kaget sedikit sebelum kembali melanjutkan kegiatannya. 

“Hyung masak apa?” tanya Taehyung

“Nasi goreng kimchi. Kau mau?” Taehyung hanya berdeham dan mengecup pipi Yoongi sekilas sebelum kemudian beranjak untuk duduk di meja makan di seberang Seokjin. Taehyung yang juga masih belum memiliki energi untuk membuka percakapan hanya memandangi ruang makan mereka sambil melamun, sesekali matanya juga memperhatikan Seokjin yang sedang menyeruput habis kuah ramennya. Tidak menunggu lama, hidangan yang dimasak Yoongi sudah siap dan disajikan di hadapan Taehyung. Yoongi mengambil tempat duduk di sampingnya dan kemudian mereka makan dalam diam. Seokjin yang sudah selesai makan mulai beranjak dari tempatnya untuk membuang cup ramennya dan menyusul Hoseok dan Jungkook di ruang televisi.

“Jam berapa kita akan berangkat?” tanya Yoongi setelah mereka selesai menghabiskan makanan mereka.

Diliriknya jam dinding yang terpasang di ruang makan mereka yang sudah menunjukkan pukul 12:14 siang. “Bagaimana kalau setelah ini?” Taehyung menaikkan alisnya, meminta pendapat Yoongi.

“Baiklah, biar kubereskan ini dulu,” Yoongi hendak bangkit dan membersihkan peralatan makan mereka sebelum tiba-tiba tangan Taehyung mencekal pergelangan tangannya.

“Biar aku saja yang bereskan. Hyung siap-siaplah dulu, aku sudah mandi dan tinggal berganti pakaian saja,” ujar Taehyung sambil membereskan piring kotor mereka dan menaruhnya di wastafel untuk mencucinya bersama peralatan masak yang tadi dikenakan Yoongi.

Yoongi pun hanya mengangguk dan menuruti perkataan Taehyung untuk bersiap-siap terlebih dahulu dan pergi meninggalkan ruang makan.

Setelah Taehyung selesai mencuci piring dan berganti pakaian. Dia memilih untuk menunggu Yoongi di ruang televisi bersama yang lainnya. Jimin dan Namjoon juga sudah terbangun dari tidur panjang mereka dan bermalas-malasan sambil memainkan ponsel mereka di sisi sofa yang lain.

Tak lama kemudian Yoongi muncul dan berdiri di hadapan Taehyung menggunakan kemeja katun hitam polosnya dan sepasang ripped jeans yang biasa dia pakai. Taehyung mendongakkan kepalanya, memperhatikan kekasihnya yang selalu terlihat tampan meski ia sudah sering menggunakan pakaian yang sama berulang kali. Dibandingkan dengannya, Yoongi memang bukan tipe orang yang suka dan sering berkesperimen dengan modenya. Yoongi lebih menyukai pakaian-pakaian yang simple, kasual dan yang memiliki ukuran agak longgar sehingga memberikan rasa nyaman saat memakainya meskipun di cuaca yang cukup terik. Sementara Taehyung sendiri mengenakan turtleneck abu-abu yang dipadukan dengan jaket jeans coklat dan celana tartannya. Keduanya pun juga sudah menyiapkan masker yang biasa mereka pakai sebelum keluar.

Taehyung bangkit dari duduknya dan merangkul pinggang ramping Yoongi, “Sudah siap?”

Yoongi menatap Taehyung dan tersenyum tipis sebelum mengangguk mengiyakan. Sebelum mereka benar-benar berangkat, Taehyung mendekatkan bibirnya ke telinga Yoongi dan berbisik, “ You look beautiful today, babe. Aku selalu suka tiap lihat kamu pakai baju ini,” 

Setelah mengatakan itu, dilihatnya pipi Yoongi yang merah padam karna kalimatnya barusan. Puas mendapat reaksi semacam itu dari Yoongi (yang bahkan hanya mampu mengalihkan wajahnya karna malu), Taehyung mengecup pipinya lembut hingga membuat pipi Yoongi terlihat makin merah membara. Taehyung sudah sejak lama tidak peduli akan keberadaan member lain di sekitarnya setiap dia melakukan PDA dengan Yoongi. Dan meskipun Yoongi juga sudah lama menerima love language Taehyung ini, tetap saja dia merasa malu melakukan ini di depan orang-orang hingga jadi pusat perhatian.

Jimin yang sejak tadi diam memperhatikan sepasang kekasih itu tiba-tiba menceletuk, “Hari sedang panas seperti ini kalian mau kemana?” 

Mendengar pertanyaan tersebut, sontak mereka berdua mengalihkan perhatian kepada Jimin yang masih menatap mereka, “Sekarang hari libur, dan kami sepasang kekasih, tentu saja kami harus pergi berkencan, Jimin.” jawab Taehyung iseng sambil memamerkan senyum lebarnya.

Jimin yang mendengar jawaban temannya itu hanya memutar mata dan menghela napas sebal, “Aihh, dasar anak muda jaman sekarang. Hanya cinta dan cinta saja yang mereka pikirkan di hari liburnya. Mereka harusnya tahu jika menjalani hidup itu tidak hanya tentang cinta,” jawab Jimin dramatis. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya terkekeh mendengar perkataan Jimin.

“Astaga Jimin, berhenti bertingkah kolot. Kau sungguh memalukan,” balas Yoongi sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan sambil sedikit mengerang. Jika Jimin memutuskan untuk mengganggu mereka, maka Yoongi tentu dengan senang hati membalas Jimin dengan lebih menyebalkan lagi. Seperti itulah dinamika mereka.

Jimin yang mendengar balasan Yoongi langsung memendelikkan matanya sambil menunjuk pasangan itu, “Min Yoongi! Wahh, hyung yang satu ini benar-benar. Kim Taehyung, minta kekasihmu untuk mengendalikan ucapannya sendiri,” Sementara Taehyung dari tadi hanya terkekeh geli karna mendapat hiburan seperti ini.

“Aih, sudahlah kalian berdua. Kalau begitu kami pamit dulu, semuanya. Selamat menikmati hari libur!” pamit Taehyung sambil melambai pada para member dan mendorong Yoongi untuk berjalan lebih dulu.

“Hati-hati kalian berdua, selamat bersenang-senang!” balas Hoseok.

 

Sesampainya mereka di daerah Gyeonggi-do dan memarkirkan mobil mereka di tempat parkir. Taehyung dan Yoongi hanya berjalan tak tentu arah sebentar melihat-lihat etalase toko sampai akhirnya Yoongi menceletuk, “Kita sudah di sini. Sekarang kau akan membawaku kemana Tuan Kim Taehyung?”

Taehyung mendadak menghentikan langkahnya yang otomatis diikuti Yoongi dan menangkup dagunya dengan kedua ibu jari dan telunjuknya seperti sedang berpikir, “Hmm, sebentar biar aku lihat-lihat dulu,” jawab Taehyung sambil menolehkan kepalanya ke sekeliling untuk melihat toko apa saja yang ada di sekitar mereka.

Setelah menemukan apa yang menurutnya menarik, Taehyung langsung menggenggam tangan Yoongi dan menariknya menuju satu cafe di seberang jalan. “Hari ini cukup panas, ayo kita beli minuman dingin terlebih dahulu.” Sebelum sempat memasuki cafe, Yoongi sempat melirik tulisan yang tertempel di kaca depan tempat tersebut, di sana tertulis nama Yogerpresso yang dicetak cukup besar.

Cafe yang mereka masuki cukup ramai dengan orang-orang yang juga mengantri untuk membeli minuman dingin seperti mereka berdua atau sibuk duduk-duduk sambil berbincang dengan teman mereka. Saat antrian mulai habis dan tiba giliran mereka memesan, Taehyung memutuskan untuk memesan menu Merry Strawberry , menu yoghurt yang diisi dengan stroberi frappe dan ditambah dengan sedikit whipped cream dan topping buah stroberi yang memenuhi gelasnya. Sementara Yoongi memilih memesan minuman klasik andalannya, es Americano .

“Yah, hyung, sekali-kali pesanlah sesuatu selain Americano. Terlalu banyak kopi tak bagus buat kesehatanmu, walau kau sekarang sudah menguranginya menjadi sehari sekali,” keluh Taehyung saat pesanan mereka selesai dan mereka kembali menyusuri jalanan Gyeonggi-do.

“Minum terlalu banyak sesuatu yang terlalu manis seperti milkmu juga tak bagus untuk kesehatan, Taehyung,” balas Yoongi.

“Tapi setidaknya milikku ada yoghurt dan buah stroberi yang menyehatkan hyung!,” bantah Taehyung, dia benar-benar tidak mau mengalah. “Ditambah lagi, seumur hidupmu kau bisa dengan mudah menghitung berapa banyak kau minum minuman manis seperti milikku. Jadi, kalaupun sekarang kau minum sekali saja dalam setahun tetap tidak akan memberi efek apapun padamu. Aku yakin itu.” 

Tiba-tiba Yoongi berhenti dan berbalik menghadap Taehyung, “Baiklah, kalau begitu suapi aku sedikit yoghurt dan buah stroberi milikmu supaya aku lebih sehat,” ucap Yoongi sebelum kemudian menurunkan maskernya lebih lebar dan membuka mulutnya, minta disuapi. Taehyung yang melihatnya hanya tersenyum kecil sebelum menyendokkan sedikit yoghurt nya beserta satu potong stroberi dan menyuapkannya pada Yoongi.

Yoongi menerima suapan tersebut dan mengunyahnya pelan, dirasakannya rasa hambar yoghurt di mulutnya bercampur dengan rasa asam dan segar dari stroberi tersebut. Tanpa disadari Yoongi, sejak tadi mata Taehyung terus tertuju pada pipi Yoongi yang menggembung besar karna mengunyah stroberi itu sebelum kemudian beralih ke bibir mungil merahnya yang mengerucut lucu. 

Dilihatnya di bibir Yoongi terdapat sedikit jus stroberi yang menempel di bibirnya membuat mulut Taehyung berliur. Tanpa pikir panjang, Taehyung mencondongkan kepalanya dan mengecup bibir Yoongi dan menjilat bersih jus di bibirnya cepat sebelum kembali ke posisinya sebelumnya.

Mendapati ciuman tiba-tiba tersebut, sontak Yoongi berhenti mengunyah dan memandang Taehyung dengan mata lebar. Pipinya terasa panas dan jantungnya berdetak sangat cepat karna kejadian barusan. Sementara Taehyung yang melihatnya hanya menyeringai dan menggenggam tangan Yoongi untuk mengajaknya melanjutkan perjalan. Belum jauh mereka berjalan, Yoongi yang sudah reda dari kekagetannya langsung menarik tangannya dari genggaman Taehyung dan memukul pundak pemuda itu berkali-kali, “Kim Taehyung, apa-apaan barusan?! Bisa-bisanya, di jalanan seperti ini. Ah, menyebalkan!”

“Hahaha, ya ampun hyung, aku minta maaf. Bibirmu terlihat manis sekali aku jadi tidak tahan,” gurau Taehyung sambil berusaha menjauh dari serangan tangan Yoongi.

Yoongi yang sudah menghentikan pukulannya langsung menarik maskernya kembali ke posisi semula dan berjalan mendahului Taehyung. “Hey, hyung, tunggu!” kejar Taehyung hingga dia sampai di sebelah Yoongi dan menggenggam tangannya lagi. Baiklah aku minta maaf ya karna sudah menciummu tiba-tiba di depan umum. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi tanpa persetujuanmu,” bujuk Taehyung dengan mata memohonnya.

Yoongi yang sebetulnya tidak terlalu marah pada Taehyung pun dengan mudah menerima permintaan maaf pemuda itu. Yoongi sebenarnya suka dicium Taehyung seperti itu, meskipun jika di depan publik memang rasanya memalukan dan sedikit menakutkan karna bagaimanapun, mereka belum mengumumkannya ke orang-orang dan penggemar mereka kalau mereka berdua menjalin hubungan. Karna Gyeonggi-do sedang tidak terlalu ramai hari ini, Yoongi tidak terlalu khawatir akan rumor yang akan beredar. 

Tapi dia lebih merasa malu karna ciuman mendadak Taehyung barusan, tidak biasanya Taehyung menciumnya di depan publik (selain member BTS dan staff mereka), apalagi sampai menjilat bibirnya seperti itu. Jantung siapa yang bisa bertahan dihadapkan dengan sesuatu yang tidak terduga dan sangat intim seperti itu.

Setelah mereka berjalan cukup lama dan menghabiskan minuman mereka, Taehyung mulai mengarahkan Yoongi ke lokasi sebenarnya mereka akan berkencan. Yoongi sebenarnya hampir lupa kalau pada kencan mereka hari ini Taehyung akan mengajaknya ke suatu tempat. Karna jujur, dia sendiri sudah cukup puas dan sedikit lelah karna terus diajak Taehyung untuk berputar-putar di blok ini seolah sedang mengulur waktu. 

“Ayo hyung, sebentar lagi kita sampai,” kata Taehyung sambil mempercepat langkahnya hingga nyaris berlari sambil menyeret Yoongi. “Taehyung, pelan-pelan. Aku lelah,” keluh Yoongi sambil memberengut.

“Tenang saja, di tempat yang akan kita kunjungi nanti kau bisa dengan sepuasnya duduk-duduk dan bahkan berbaring di kasur,” Yoongi yang mendengar jawaban Taehyung langsung memutar otak, memikirkan kemungkinan kira-kira di mana mereka akan pergi. HIngga seketika wajah Yoongi mendadak memerah. Taehyung… tidak mungkin kan mengajaknya ke ho-

Belum sempat Yoongi menyelesaikan pikirannya, tiba-tiba Taehyung menghentikan langkahnya dan berseru, mengumumkan kehadiran mereka, “Nah, sudah sampai!” Napas mereka tersenggal-senggal.

“Kita dimana?” tanya Yoongi sambil membungkuk, mencoba mengendalikan detak jantung dan napasnya yang ngos-ngosan. 

“Lihatlah,”

Yoongi pun menegakkan tubuhnya dan melihat ke depan mereka. Di sana dia hanya melihat gedung IKEA yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Yoongi menolehkan kepalanya ke samping kanan dan kiri untuk memastikan mereka ada di tempat yang tepat dan mencoba mencari hotel yang mungkin seharusnya mereka tuju. Namun nihil. Tidak ada hotel di sekitar sana.

“Dimana hotelnya?”  tanya Yoongi dengan polos.

“Huh, hotel? Hyung, kita akan berkencan di IKEA!”

Dan pada saat itu Taehyung melihat pipi kekasihnya yang bersemu merah. Taehyung menyenggol bahu Yoongi dan menggodanya habis-habisan sambil menyeringai, ”Oh, lihat siapa yang punya pikiran kotor di sini. Apakah kekasihku punya rencananya sendiri untuk kencan kita hari ini, hm?”

Yoongi pun sontak mengalihkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan menggoda Taehyung. Melihat kekasihnya yang tak mengelak membuat Taehyung kembali terkekeh dan membisikkan sesuatu di telinga Yoongi, “Kalau kau masih mau ke hotel setelah ini, aku tidak keberatan.”

Yoongi balik menatap Taehyung tajam dan tanpa kata langsung pergi mendahuluinya untuk masuk ke dalam IKEA. Taehyung yang melihat Yoongi langsung bergegas untuk menyusulnya masuk sambil masih terkekeh kecil. Sebenarnya Taehyung juga tidak keberatan jika Yoongi memang ingin menghabiskan waktu berdua dengannya di hotel setelah ini. Tapi Taehyung ingin memanjakan kekasihnya di sini terlebih dahulu sebelum mereka menuju ke hotel untuk bermesraan (itu pun kalau Yoongi masih ingin melakukannya).

Karna hari ini bukan akhir pekan dan masih waktu kerja untuk kebanyakan orang, tidak banyak pengunjung yang datang dan berlalu-lalang di dalam sini sehingga mereka bisa lebih leluasa untuk menjelajahi gedung ini. Pengunjung yang datang pun kira-kira hanya pasangan suami istri paruh baya serta hanya segelintir anak muda saja (yang kemungkinan mahasiswa) yang terkadang sibuk berfoto di lorong-lorong IKEA untuk diunggah di sosial media mereka.

Lorong pertama yang mereka lalui berisikan banyak pernak-pernik dekorasi rumah yang berukuran mini dan terpajang di rak-rak yang berderet panjang dan cukup besar. Dari mulai miniatur boneka, snow globe, bahkan dekorasi klasik seperti Menara Eiffel juga tersedia di sana. Mereka berdua memperhatikan setiap jenis dekorasi yang tersedia dan bahkan berdiskusi cukup serius untuk membeli satu atau dua untuk dipajang di kamar atau studio mereka masing-masing dan mungkin membeli beberapa untuk para member juga.

Setelah selesai memilih, mereka pindah menuju lorong berikutnya yang berisi boneka-boneka besar. Saat bergandengan tangan dan memandangi pajangan di sana, Taehyung melihat satu boneka babi yang mengenakan baju hijau dan topi menggemaskan yang berukuran cukup besar di keranjang yang terletak tidak jauh dari mereka. Lantas ia pun bergegas lari melepaskan genggaman tangan Yoongi dan menunjukkan temuannya tersebut pada Yoongi, "Hyung, lihat ini! Boneka ini menggemaskan kan? Lihat, lihat!" tanyanya sambil tersenyum lebar pada Yoongi dan sesekali memandangi boneka di genggamannya tersebut dan memeluknya untuk mengetes kelembutan dan kekenyalan  boneka tersebut. "Ah.. ini juga sangat lembut hyung. Rasanya aku akan menangis saat ini juga jika tak bisa membawanya pulang sekarang,"

Yoongi yang perlahan semakin mendekati Taehyung hanya terkekeh pelan melihat tingkah kekasihnya itu. "Kalau begitu bawalah pulang," jawab Yoongi. "Kau yang membayar?" tanya Taehyung sambil menatap mata Yoongi penuh harap. Sebut saja Yoongi bucin, tapi dia memang tidak akan pernah sanggup mengatakan tidak pada Taehyung. Jadi dia hanya menghela nafas pelan dan mengangguk.

Taehyung yang mendapati jawaban tersebut langsung berseru girang dan menari-nari di sana saking senangnya. "Ah hentikan, kau membuatku malu," ujar Yoongi pelan sambil menunduk malu

"Aku tidak peduli. Aku sedang sangat senang karna kekasihku sudah membelikan hadiah menggemaskan ini untukku. Min Yoongi, aku akan mengingat jasa besarmu ini seumur hidupku," ujar Taehyung sambil terus mendekap bonekanya dan kembali menggenggam tangan Yoongi dan menyeretnya menuju lorong lain.

Seperti dugaan Taehyung, saat mereka tiba di lorong yang berisi berbagai macam jenis lampu dan keramik, Yoongi langsung terdiam dan terlihat lebih fokus untuk memperhatikan setiap detail lampu-lampu dan keramik tersebut. Bahkan saat ketika Taehyung menunjukkan ketertarikan pada suatu lampu tertentu, Yoongi juga tak segan untuk memberikan sedikit detail yang dia tahu mengenai lampu tersebut dan menjawab setiap pertanyaan Taehyung dengan lugas.

“Hyung, lihat, lampu ini terlihat seperti UFO bukan?” tunjuk Taehyung pada satu jenis lampu meja yang memiliki bentuk bulat sempurna dan diletakkan pada sebuah lempengan logam di bawahnya. Membuatnya sekilas benar-benar terlihat seperti sebuah pesawat UFO. Yoongi yang tadinya tengah memperhatikan lampu marmer abu-abu bernama Evedal langsung mengalihkan perhatian pada lampu yang dimaksud Taehyung dan berjalan menghampirinya.

“Ah.. itu namanya Simrishamn ,” ujar Yoongi sambil mengelus permukaan lampu tersebut pelan. “Lampu ini bisa dibilang cukup rawan karna hanya terlapisi kaca, kalau kau ceroboh sedikit dan tak sengaja menyenggolnya, bisa hancur sudah semuanya. Dasarnya pun hanya dilapisi platik polikarbonat dengan logam dan cat akrilik. Memang terlihat cantik dan unik. Tapi terlalu beresiko, aku benar-benar tidak menyarankannya,”

“Kalau kau ingin lampu meja yang unik, aku sarankan untuk membeli Solbo ,” Yoongi berbalik dan menunjuk ke salah satu lampu berbentuk burung hantu di rak sebelahnya. “Di katalog dikatakan bahwa itu lampu anak-anak. Dasar, penutup, dan lensa optiknya terbuat dari plastik ABS, jadi plastiknya tidak akan meleleh walau lampu itu menjadi panas nantinya. Sedangkan kapnya sendiri terbuat dari plastik polipropilena, plastik jenis itu sudah banyak digunakan untuk berbagai keperluan, seperti wadah yang didaur ulang, pengeras suara, dan sebagainya.” Yoongi menghembuskan napasnya sebentar sebelum kemudian berbalik menatap Taehyung lagi, “Jadi kesimpulannya, lampu Solbo adalah lampu yang unik, lucu dan sekaligus aman. Cocok untuk dirimu yang terkadang ceroboh,” ucap Yoongi sambil tersenyum kecil.

“Oh, kau juga bisa membeli berpasangan dengan Jimin. Aku yakin dia akan suka,”

Taehyung yang sejak tadi memperhatikan Yoongi dari awal penjelasan hingga akhir hanya tersenyum tipis sambil memeluk bonekanya. Semakin lama semakin erat. Taehyung bisa melihat dan merasakan dengan jelas seberapa antusiasnya Yoongi hanya dengan membahas lampu-lampu yang menurut Taehyung biasa saja dan hanya berbeda bentuk tersebut. Mungkin ini sama dengan yang dirasakan Yoongi ketika setiap kali dia mengajaknya berkencan di museum dan galeri seni. Saat dia menjelaskan perbedaan karya-karya Da Vinci, Monet, dan Basquiat padanya dan Yoongi hanya diam sambil memperhatikan lukisan-lukisan yang dimaksud Taehyung sambil mendengarkan penjelasannya.

God, they’re clearly so whipped for each other.

 

(Meski Yoongi masih suka menyangkalnya)

 

“Kekasihku pintar sekali,” ucap Taehyung sambil mencubit pipi Yoongi pelan sebelum kemudian mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Wajah Yoongi terlihat sangat kecil dan bulat ketika satu telapak tangan Taehyung menangkup pipinya seperti ini. Membuatnya menjadi berkali-kali lipat lebih menggemaskan. “Ayo kita lanjut melihat set-up kamar tidur dan ruang keluarga. Aku lelah berjalan-jalan sejak tadi,” ajak Taehyung kemudian.

Setelah tiba di lorong yang berisi set-up ruang keluarga dan kamar tidur, Taehyung dan Yoongi mulai berkeliling dan mencoba beberapa sofa dan tempat tidur untuk diduduki. Mereka sebenarnya tidak benar-benar ingin mencoba dan mengetes kelenturan tiap sofa dan tempat tidur tersebut. Itu hanya alasan mereka supaya bisa mengistirahatkan kaki mereka yang sudah pegal dan seakan hampir copot.

Dan meski sebenarnya Yoongi menentang usulan Taehyung tersebut di awal, Taehyung tetap bersikeras membujuk Yoongi untuk ikut duduk bersama dengannya. “Hyung, tidak apa-apa. Hari ini sepi jadi tidak banyak petugas yang berkeliling dan mengawasi kita,”

“Tapi tetap saja ada CCTV, Taehyung.” sanggah Yoongi.

“Ah tidak papa, hyung. Kujamin keamananmu,” ucap Taehyung sambil menarik Yoongi ke sofa terdekat. “Kemari, ayo ayo duduk, nah, bagaimana tidak apa-apa kan?” tanya Taehyung sambil terus menggelayuti tangan Yoongi, menahannya supaya tidak pergi.

“Kau yakin tidak akan ada petugas yang akan menghampiri kita nanti?”

“Kalau ada petugas datang, kita langsung beranjak dan pergi ke sofa selanjutnya. Jangan terlalu dipikirkan, hyung. Ayo kita istirahat sebentar, kakiku sudah ingin lepas rasanya.” jawab Taehyung sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa yang kemudian diikuti Yoongi dengan ragu-ragu.

Lama mereka terdiam hingga Yoongi nyaris terlelap sebelum kemudian tiba-tiba Taehyung beranjak dari duduknya dan menyeret Yoongi kembali berdiri, “Hyung, ayo sekarang kita mencari tempat tidur,” Yoongi yang merasa waktu istirahatnya terganggu hanya mengerang kesal. “Kenapa? Kenapa kita harus pindah? Sofa itu sudah cukup Taehyung-ah.”

“Berlama-lama menyandarkan diri di sofa tidak bagus untuk punggungmu, hyung. Karna tidak ada hotel di sekitar sini, dan rumah kita juga jauh, jadi mari kita merebahkan diri di kasur yang ada di sini,”

Yoongi yang mendengarkan perkataan Taehyung hanya tersenyum masam. Yoongi tahu sekali bahwa Taehyung tidak akan mudah melepaskannya dari celetukannya tadi.

“Wah, hyung, lihat semua kasur ini. Semuanya terlihat sangat empuk,” seru Taehyung sambil terus mengamati dan menimang-nimang, kasur mana yang akan mereka coba. “Oh, hyung, lihat yang itu, sepertinya yang itu terlihat nyaman,” tunjuk Taehyung pada sebuah kasur berwarna abu-abu yang dihias dengan dua tumpuk bantal putih polos dan comforter

Tanpa banyak kata, Taehyung menarik Yoongi untuk mengikutinya dan kemudian langsung mendudukan Yoongi di kasur tersebut sebelum kemudian Taehyung beranjak berlari ke sisi satunya dan langsung merebahkan dirinya begitu saja. “Kau benar-benar gila,” ucap Yoongi sambil tersenyum kecil melihat Taehyung yang benar-benar tidak peduli dengan keadaan sekitar.

“Ah, ayo hyung, berbaring bersamaku,” ucap Taehyung sambil meraih pergelangan tangan Yoongi dan menariknya untuk merebahkan diri yang langsung dituruti oleh Yoongi begitu saja. Benar kata Taehyung, berbaring di tempat tidur seribu kali lebih baik ketimbang harus bersandar berlama-lama di sofa. Yoongi bisa merasakan tubuhnya langsung menyatu dengan kasur tersebut. Menenggelamkan dirinya ke dalam perasaan nyaman dan lega hingga tanpa sadar Yoongi mulai memejamkan matanya.

Taehyung yang melihat Yoongi sudah memejamkan matanya kemudian menggeser tubuhnya lebih dekat pada Yoongi hingga bahu mereka saling menempel. Yoongi yang merasakan pergerakan Taehyung langsung membuka matanya karna terkejut. “Ada apa?” tanyanya dengan suara sedikit serak.

“Hmm, tidak papa, hanya ingin melihatmu lebih dekat,”

Yoongi yang mendapati jawaban Taehyung lagi-lagi hanya mengerutkan dahinya. “ Cheesy ,”

“Haha, aku serius hyung,” ucap Taehyung sambil menghadapkan tubuhnya sepenuhnya pada Yoongi dan menyandarkan kepalanya pada satu tangannya, boneka babinya sudah ia singkirkan ke pinggir kasur supaya tak mengganggunya. Dilihat dari sudut pandangnya sekarang, Yoongi benar-benar terlihat semakin mungil di hadapan Taehyung yang sudah menjulang lebih tinggi dari Yoongi.

“Bagaimana hari ini? Apa kau bersenang-senang?” tanya Taehyung sambil menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajah Yoongi dengan satu tangannya yang bebas. Setelah semua rambut yang menghalangi tersingkir, Taehyung langsung melarikan jemarinya dengan perlahan di kulit wajah Yoongi yang lembut. Taehyung dapat merasakan napas Yoongi yang sedikit tercekat meskipun mulut mereka masih tertutup dengan masker.

“Ya, aku bersenang-senang.”

Taehyung yang mendapati jawaban Yoongi tersebut langsung tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk sebilah bulan sabit yang terlihat berkilauan di mata Yoongi. “Baguslah, kalau begitu aku sudah selesai menepati janjiku untuk mengajakmu ke tempat yang menyenangkan.”

“Hm.. terima kasih karna sudah membawaku ke sini,” ucap Yoongi sambil meraih tangan Taehyung yang masih menari-nari di wajahnya. Yoongi menurunkan maskernya dan mengarahkan punggung tangan Taehyung ke bibirnya dan mengecupnya pelan dan penuh makna.

Melihat apa yang dilakukan kekasihnya itu membuat hati Taehyung berdesir. Dengan perlahan dia lepaskan tangannya dari genggaman Yoongi dan menangkup pipi kekasihnya dengan perlahan hingga membuat pria itu mendongak menatap Taehyung. Dilihatnya setiap detil wajah orang yang paling dicintainya itu dengan khidmat, dilihatnya bintik-bintik yang menghiasi ujung hidung Yoongi, merambat naik hingga ke alisnya yang tebal, matanya yang mungil seperti kucing dan berkilauan seperti kristal, pipinya yang akhir-akhir ini semakin terlihat berisi, dagunya yang bulat, dan terakhir bibir mungilnya yang merah dan lembab.

Perlahan Taehyung menurunkan maskernya dengan satu tangan yang menyangga kepalanya tadi, “Bolehkah?” Tanpa ragu Yoongi pun menganggukan kepalanya.

Dan tanpa banyak kata, Taehyung mulai menundukkan kepalanya dan mengecup ujung bibir Yoongi cepat sebelum kemudian beralih ke ujung yang satunya. “Kalau kau benar-benar ingin menciumku, ciumlah dengan benar,” sahut Yoongi tiba-tiba hingga membuat Taehyung mendengus sebelum kemudian menempelkan bibirnya tepat pada bibir Yoongi. Di kecupnya berkali-kali bibir ranum itu seolah ia sedang mencicipi bagaimana rasa dan tekstur bibir tersebut.

Yoongi yang semakin tidak sabar mulai membuka sedikit mulutnya dan meraup bibir Taehyung sehingga mereka bisa berciuman dengan benar. Dua pria itu saling memagut dan mengecup dengan perlahan, seolah mereka memiliki seluruh waktu yang ada di dunia, seolah mereka adalah satu-satunya orang di tempat ini. Taehyung dan Yoongi benar-benar melupakan dimana mereka berada sekarang.

Tapi tidak, mereka berdua benar-benar tau dan sadar dimana mereka berada dan resiko apa yang menunggu mereka jika mereka tetap meneruskan untuk berciuman di tempat umum seperti ini. Dengan beberapa mata yang mengawasi entah di balik dinding atau kamera pengawas yang menggantung di atas kepala mereka. Mereka tidak peduli dan perasaan itu justru semakin memacu adrenalin di dalam diri mereka untuk semakin berdesir, mengalir ke seluruh tubuh mereka dengan antisipasi dan kegirangan.

Tidak lama setelah itu, Taehyung mulai menarik dirinya, membiarkan Yoongi dan dirinya meraup udara sebanyak-banyaknya dan mengisi paru-paru mereka yang nyaris kering karna saling bertukar oksigen. Taehyung menyatukan keningnya dengan Yoongi yang masih kesulitan untuk mengatur napasnya. Adrenalin masih mengalir deras dalam dirinya. Ini pertama kalinya Yoongi bertingkah seberani ini di tempat umum. Dan dia merasa puas.

“Ini pertama kalinya,” bisik Taehyung pelan di telinganya dan Yoongi merasakan sekujur tubuhnya meremang. “Pertama kalinya kau bersedia untuk berciuman seperti tadi di tempat umum.” Taehyung menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum lebar yang mencoba lolos. Dia merasa benar-benar senang.

Sementara Yoongi yang tak mampu membalas ucapan Taehyung hanya bisa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung. Rasanya seolah seperti seluruh kosa kata yang ada di otaknya meluruh dalam ciuman mereka barusan. Yoongi benar-benar dibuat Taehyung tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya merasa senang dan puas bisa melakukan itu dengan Taehyung. Taehyung yang selalu bersedia melakukan apapun untuk membuatnya senang dan nyaman.

Di tengah-tengah momen tenang mereka, tiba-tiba Taehyung memecah keheningan dan bersiap-siap seolah hendak turun dari tempat tidur yang mereka tiduri. “Ehm, hyung, kita harus pergi sekarang. Sepertinya aku melihat dua petugas sedang berjalan menuju ke arah kita sekarang.”

Yoongi yang mendengar perkataan Taehyung langsung terduduk dan melihat ke arah pandang Taehyung, dan benar saja, dilihatnya dua karyawan IKEA tengah berjalan ke arah mereka sambil bercengkerama dan sesekali melirik ke arah mereka. Taehyung pun bergegas untuk mengambil boneka babinya dan menarik lengan Yoongi sekaligus dan mengajaknya untuk berjalan menjauh ke arah sebaliknya.

“Ahh, benar kan apa kataku, pasti akan ada petugas yang menghampiri kita,” gerutu Yoongi sambil mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah cepat Taehyung.

Sementara Taehyung hanya tertawa-tawa riang sambil terus menarik Yoongi hingga ke meja kasir di depan. "Sudah kubilang tidak apa-apa hyung. Yang penting sekarang ayo kita bergegas menuju kasir dan membayar belanjaan kita. Lagipula aku yakin mereka sudah berhenti mengejar kita sekarang."

Ketika Yoongi menoleh ke belakang, benar saja sudah tidak ada petugas yang mengejar mereka. 

Setelah mereka selesai membayar barang belanjaan, Taehyung kembali menggenggam tangan Yoongi sambil berjalan keluar meninggalkan gedung IKEA sebelum tiba-tiba Taehyung berceletuk, "Hyung, jadi ingin mampir ke hotel?" tanya Taehyung sambil menatap wajah Yoongi yang langsung tersedak dan mendorong bahu Taehyung keras hingga ia hampir terjerembab, mencoba melepaskan diri dari genggamannya.

"Tutup mulutmu dasar mulut besar,"

 

Sementara Taehyung hanya tersenyum lebar sambil semakin mempererat genggaman tangannya pada Min Yoongi.