Actions

Work Header

Secangkir Kopi dan Sekuntum Mawar Setelah Senja

Chapter Text

Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya yang kini menatap sekeliling yang hampir gelap gulita, kecuali penerangan redup dari lampu meja. Jarum jam dinding tidak mampu terbaca hingga ia berusaha keras meraba - raba dinding hanya untuk menyalakan saklar lampu. Namun belum sempat ia menemukan sang waktu, pandangannya segera teralihkan pada daun pintu yang tak henti - hentinya bersuara dalam gema.

“Loid, lu masih hidup kan?”

Dan juga suara teriakan panik di balik pintu yang mengganggu ketenangannya.

“Oi! Buka pintunya atau gue panggil polisi.”

Dengan gontai kedua kakinya terseret untuk membuka pintu, tak berusaha memperlihatkan wajah semangat atau senyum barang sedikit. Tak jua memikirkan betapa kusut penampilannya saat ini. Toh, ia sedang sibuk dan bukan permintaannya 'tuk mendapat tamu di saat seperti ini.

Yang sejak tadi berada di luar langsung bergegas masuk sambil membawa sebuah kardus mie instan berisikan buku - buku yang menyembul di antara lipatan kardusnya. Mengitari ruangan tersebut lalu menaruhnya di dekat televisi, pun segera duduk di sofa sambil merogoh isi tas ranselnya yang tak kalah besar.

“Nih, gue bawain buku referensi yang mungkin lu butuhin,” ucap pria itu, Frankie, sambil menyerahkan selembar kertas berisikan semua judul buku yang dibawanya sore ini. “Tapi lu minjemnya nggak bisa lama - lama, soalnya gue juga cuma minjem.”

Loid menunduk dan membaca cepat deretan judul yang seluruhnya terasa asing dan tak pernah ia baca sebelumnya. Nampaknya buku - buku ini dapat memudahkan penulisan novel detektifnya.

“Ngomong - ngomong, apa lu nggak bete ngedekem terus, padahal dulu paling rajin nongkrong di warkop.” Frankie kini meluruskan kakinya dan mulai mencari posisi enak untuk mengistirahatkan kakinya yang pegal - pegal di atas sofa. “Nggak kangen ngopi lu?”

“Kerjaan gua belum selesai,” balas Loid yang sudah kembali ke posisinya semula, duduk dan memandangi kertas di hadapannya yang masih bersih tanpa noda. “Deadline juga tinggal sebulan lagi. Nggak mungkinlah gua leha - leha.”

“Yaelah, Sob, lu mau sampe jamuran di dalem rumah kalau progress nggak ada, ya, percuma.”

Ekspresi bete tercetak jelas di wajah Loid.

“Mending sekarang lu ikut gue, deh. Ada warkop yang baru buka deket sini dan lagi ngasih promo buat budak korporat.”

“Kan gua udah bukan budak korporat lagi, Frankie. Lu kesana aja sendiri,” balas Loid yang kini menghela napas panjang. “Lagian kalau mau ngopi, doang, gua juga bisa bikin kopi Kereta Api di dapur.”

Frankie menatap lawan bicaranya dengan tatapan nyinyir sebelum menggeleng yang seolah - olah berkata, ‘Lu mah nggak asyik.’

Tentu ia ingin membantah sahabatnya dan memberi alasan - alasan pendukung yang rasional, namun ia sudah terlanjur lelah dengan tulisannya yang terus menemui jalan buntu pun perutnya yang mulai keroncongan akibat belum diisi dari kemarin malam. Setelah dipikir - pikir, mungkin ada benarnya juga si Frankie maksa Loid buat ke luar rumah gara - gara gaya hidupnya sudah terlanjur kacau semenjak mengurung diri dalam waktu lama.

Ah..

Tapi kalau sampai meneguk secangkir kopi sekarang juga, tidakkah lambungnya akan menangis meraung - raung? Sepertinya ia perlu meminum sebutir obat maag untuk berjaga - jaga.

“Kuylah, Loid!”

Toh, hanya warung kopi. Pasti bisa pesan mie instan juga kan untuk mengganjal perut? Mungkin bersantai dua - tiga jam tak masalah.


Entah sudah berapa lama roda motor Yamada milik Frankie berputar, namun mereka belum juga sampai ke tempat tujuan. Mereka sudah bepergian cukup jauh hanya untuk membeli dua gelas kopi, hingga Loid mulai mempertanyakan bakal seberapa enak, sih, kopi yang disajikan sampai - sampai mereka berusaha terlalu keras. Tak lupa mulai mempertanyakan kemampuan sang sahabat dalam membaca peta sekaligus kemungkinan mereka sedang tersesat saat ini.

‘Harusnya tadi naik Go-Mobil aja,’ sesal Loid sambil memandangi gedung - gedung pencakar langit di sekitar mereka yang kini memantulkan warna jingga. ‘Tapi emang paling pas nyeduh kopi Kereta Api aja di rumah.’

Dan sedikit hatinya mulai berpikir kalau Frankie mungkin hanya mengerjainya yang sudah terlalu lama jadi anak nolep di rumah. Mungkin hanya berniat membuatnya merasakan udara kota yang tidak ada segar - segarnya akibat polusi dan kemacetan. Mungkin biar Loid terkenang dengan masa sibuk dan melelahkan seorang budak korporat yang sudah ia tinggalkan saat resign dua bulan yang lalu, masa yang sama sekali tak dikangeni sedikit pun.

Loid menengadahkan kepalanya untuk memandangi semburat jingga pada awan yang berarak rendah. Sebuah pemandangan sore hari yang ternyata sangat memukau, namun baru disadari olehnya setelah tak pernah melihatnya langsung selama sebulan terakhir.

Yah..

Ada gunanya juga ternyata, mungkin Loid memang perlu refreshing supaya masalah writer block-nya cepat selesai.

“Sob, udah sampai, nih!” seru Frankie dengan senyum lebar sambil memarkirkan motornya di parkiran yang terlampau luas.

Loid hanya bisa mengerjap satu - dua kali sembari mempertanyakan kebenaran pengelihatannya.

“Lu pasti suka, deh, sama tempatnya.”

“Frankie, ini seriusan nggak salah tempat?” tanya Loid bingung, masih sibuk memandangi tampilan luar tempat yang mereka datangi. “Tadi kata lu kan mau ke warkop, kenapa malah kesini?”

Yang diajak bicara tertawa terpingkal - pingkal, lalu menepuk pundak Loid dan mengangkat jempolnya. “Warkop kan warung kopi. Disini juga jualan kopi, jadi sama - sama warkop kan?”

Jawaban cocoklogi itu justru membuat Loid mengeryitkan dahinya, tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya yang menyamakan warkop biasa dengan kafe ala Moonbucks. Ini tempat ngopi yang kekinian, lho, yang mungkin aja selembar uang lima puluh ribu dalam dompet Loid sama sekali tak ada artinya.

Mungkin memang sebaiknya mereka segera pergi mencari warung kopi yang beneran demi kesehatan dompetnya yang hampa.

“Gue yang traktir,” ujar Frankie bagai mampu membaca kekhawatiran sahabatnya. “Abis dapet bonus dari kantor, nih.”

“Eh? Bonusnya nggak lu tabung aja?”

“Sans ae lah. Sekarang mah saatnya foya - foya.”

Rasanya Loid masih ingin menolak tawaran jajanan gratis ini mengingat gaji sahabatnya yang mepet banget UMR, tapi kayaknya tidak enak juga jika menolak bantuan padahal yang memberi sudah seniat dan serepot ini. Sehingga dengan agak canggung dan nggak enakan, Loid mengekor di belakang Frankie yang kini asyik berceloteh dengan bangga tentang bagaimana ia mendapatkan bonus dari kerja IT-nya yang selalu lembur setiap harinya.

“.. Terus, ya, tadi siang gue juga nge-hack situs lawan yang..”

Telinga Loid fokus mendengarkan semua keseruan proses hacking yang terdengar sangat mudah dilakukan sang sahabat, namun kedua matanya justru terpaku pada seorang wanita yang sibuk menyirami semak bunga mawar merah di seberang jalan. Entah apa yang menarik perhatian dari aktivitas berkebun biasa semacam itu, namun nyatanya kedua kakinya benar - benar berhenti saking terpesonanya.

“.. Lalu bos gue..”

Suara Frankie semakin samar terdengar pun lalu lalang kendaraan di jalan raya yang ramai lancar.

Rasanya aneh. Loid belum pernah merasakan sesuatu semacam ini, hingga imajinasinya yang biasa digunakan untuk menulis novel mulai bercabang ke mana - mana dan mengisyaratkan sesuatu yang tidak seharusnya.

Ah..

Andai kata ini terjadi di dalam novel cinta, Loid pasti digambarkan sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kelopak bunga yang berterbangan entah dari mana, kemudian kisah cintanya akan bergulir dengan lembut bagai sutra. Mereka tiba - tiba saja bertemu, lalu membuka percakapan dengan mudah, dan langsung cocok bagai sudah saling mengenal sejak lama. Sama - sama saling jatuh hati bagai benang merah mengikat mereka dengan erat meski tiga kali reinkarnasi telah berlalu. Sebuah kisah belahan jiwa yang Tuhan takdirkan 'tuk bersama.

Loid terkekeh pada kekonyolannya sendiri sambil berjalan cepat demi menyamai Frankie yang sudah berada jauh di depan sana.

Hanya sebuah imajinasi kecil yang sudah lama tak menyapanya sejak ia berhenti menulis novel romantis tiga tahun lalu. Sebuah kelancaran imajinasi yang diharapkan datang dengan mudah saat situasi writer block ia rasakan sejak seminggu yang lalu. Mungkinkah keluar rumah untuk memandangi pemandangan senja dan mendapat angin segar memanglah yang paling ia butuhkan saat ini?

Entahlah. Loid tak tahu, namun pastinya ia ingin segera mengambil pulpen dan buku catatan dari dalam tas untuk mencatat beberapa poin penting dari ide yang tidak berhenti berseliweran di dalam pikirannya dan mengetuk pintu hatinya saat ini.

Ah..

Menyesap segelas kopi pada sore hari di pinggiran kota sambil memandangi sesosok wanita penjual bunga dari balik jendela, sungguh bukanlah sesuatu yang ia bayangkan bakal terjadi di hari ini.