Actions

Work Header

Knowing You by Heart (and Lips)

Work Text:

.

.

Entah siapa yang mencetuskan ide ini. Di tengah dentum lagu dari speaker, gelas dan botol alkohol tergeletak di lantai, mereka berkumpul di tengah ruangan.

Sama sekali bukan hal aneh untuk memainkan dare di tengah acara seperti ini. Pesta penyambutan anggota baru yang semakin malam semakin liar. Entah sudah berapa lusin botol alkohol mereka habiskan. Lagu dari speaker telah berganti entah berapa puluh kali. Tawa dan obrolan semakin tak terkendali. Teriakan dan umpatan terdengar dari beberapa tempat.

Di tengah suasana yang cukup kacau, ide itu tercetus begitu saja. Entah siapa yang pertama kali mengusulkan. Dengan cepat disetujui, ditemani tepuk tangan dan lengking tawa. Upgrade dari dare biasa yang membosankan, Haechan berseru dengan wajah semerah tomat. Berdiri di tengah ruangan, botol kosong digenggam serupa mic.

 

Dan Taeyong, menjadi korban pertama dari usul gila itu.

 

Ia bisa menolak, tentu saja. Sebagai salah satu anggota senior, ia tidak diharuskan mengikuti semua perkataan anggota Frat House ini, lain soal dengan Sungchan selaku anak baru, misalnya. Namun, Minho-Hyung menepuk pundaknya, memberi gestur agar ia berdiri dan bergabung dengan Haechan di tengah ruangan. Ditambah, Taemin-Hyung yang duduk di sisi lain Minho, mengangkat botol ke arahnya.

Sejenak, Taeyong mengerling Johnny yang baru memasuki ruangan. Ekspresi yang tergambar di wajah kekasihnya itu tidak bisa ia definisikan.

 

Taeyong berdalih ia bersedia ikut serta sebagai penghormatan untuk anggota senior yang sudah menyempatkan hadir. Nyatanya, otaknya yang separuh mabuk membisik; ini menarik.

 

"Peraturannya gampang. Akan ada tujuh orang yang berbaris di hadapanmu dan kau harus menebak yang mana pacarmu, Hyung!"

Sesuai perkataan Haechan, tujuh orang berdiri. Johnny yang pertama. Disusul Jaehyun, Lucas, Doyoung, Kun, Minho-Hyung, dan Kai-Hyung.

Haechan lalu mengangkat kedua alis dengan cengiran super lebar. "Kau tidak boleh pakai tanganmu."

"Gak pakai tangan?" Sementara Taeyong mengulang aturan itu dengan raut bingung, Jungwoo mengikat kedua tangannya di belakang punggung. Dengan tali yang entah didapatnya dari mana. Dengan simpul rumit yang membuat tangannya terkunci, nyaris tak bisa digerakkan.

"Eh? Gimana caranya—?"

Pertanyaannya terputus begitu saja saat Haechan mulai memasangkan kain hitam di matanya. Begitu rapat. Cahaya lampu langsung hilang. Taeyong tak bisa membedakan apa ia sedang memejamkan mata atau tidak.

"Kau boleh pakai bibirmu Hyung!" Haechan berbisik keras di telinganya, lalu terkikik.

Di balik penutup matanya, Taeyong mengerutkan alis. Apa maksudnya pakai bibir? Bagaimana caranya ia menebak? Apakah ia harus mengusakkan wajahnya pada wajah masing-masing orang itu?

Sebelum ia memikirkan lebih jauh cara untuk mengidentifikasi, apakah dari lengan atau jemari, Haechan berseru. Pemuda itu menyuruh tujuh orang tadi menurunkan celana hingga separuh telanjang, karena Taeyong harus menebak dari penis mereka.

 

"EH??"

 

Siulan dan tawa nyaring pecah di penjuru ruangan, menenggelamkan seruan keterkejutan Taeyong.

Menebak Johnny dari penisnya?

Huh??

 

Sejujurnya, bisa dibilang Taeyong lebih khawatir perihal ia harus menyentuh penis lain yang entah milik siapa.

 

Walau begitu, jantungnya berdegup cepat. Membayangkan Johnny berdiri di tengah ruangan dengan organ intim terekspos dan dapat dilihat semua orang yang ada di sana membuat miliknya bereaksi. Oh, kekasihnya itu pastilah terlihat mempesona. Taeyong menjilat bibir, tidak sabar untuk menyentuh Johnny.

 

Seseorang memegang pundaknya, memutarnya di tempat entah berapa kali sampai kepalanya pusing dan ia tak lagi tahu mana atas atau bawah, sebelum menggiringnya ke satu titik dan mendorong pundaknya hingga ia berlutut.

"Orang pertama ada di depanmu, Hyung." Suara Haechan terdengar di samping telinga.

Dengan patuh, Taeyong beringsut menggunakan lututnya. Kepalanya terulur, mencari kontak. Pipinya membentur muka kulit. Halus. Permukaannya luas. Sepertinya ia mengenai paha entah siapa ini. Ia memiringkan kepala ke kanan, memeriksa, menelusuri, di mana lokasi penis orang ini. Taeyong mengendus, berusaha mengidentifikasi dari aroma tubuh. Akan tetapi, bau tembakau dan alkohol mengganggu penciumannya, hingga ia hanya bisa bergantung pada syaraf sensorik di wajahnya.

Tidak lama, kepalanya membentur sesuatu yang ia yakini sebagai batang penis. Ia menarik wajah sedikit, menelusuri organ intim itu dengan tulang pipinya yang tinggi. Kejantanan yang entah milik siapa itu mulai mengeras. Taeyong merunduk sedikit, membiarkan hidungnya menyentuh, menelusuri, membiarkan penis itu melintasi wajahnya, mengingat dan memvisualisasikan di balik kelopak matanya yang terpejam.

 

"Bukan Johnny," ia bergumam. Keyakinan yang dimilikinya ini bahkan membuatnya terkejut. Ia hanya merasa, itu bukan milik Johnny.

Seruan "Ooh" yang terdengar dengan sirat kekaguman membuatnya semakin yakin dengan tebakannya.

Mungkin mereka mengira Taeyong sama sekali tidak akan bisa menebak dan menyerah sejak awal?

 

Masih dalam posisi berlutut, Taeyong kembali bergerak, membiarkan lututnya yang terekspos di antara robekan jeans menggaruk lantai dingin. Ia tidak diberitahu seberapa berdekatan satu orang dan lainnya, maka Taeyong membiarkan kepalanya tetap terjulur. Dengan punggung separuh merunduk, ia mencari orang kedua.

Dahinya membentur pinggul cukup keras dan ia menggumamkan maaf saat orang itu tersentak. Kembali menggunakan tulang pipi serta rahang dan dagunya, Taeyong berusaha mengidentifikasi alat kelamin orang ini. Yang didapatinya masih lemas, tanpa ada kehidupan.

Orang itu dengan cepat ia lewati. Dengan gelengan pasti, ia memberitahu Haechan yang entah mengawasi dari sebelah mana, mengisyaratkan bahwa 'Bukan, yang itu pun bukan Johnny'. Kali ini ia bahkan lebih yakin, karena sungguh, (ia mungkin terlalu percaya diri soal ini, tapi) mana mungkin Johnny masih lemas melihatnya seperti ini.

 

Kondisi orang ketiga memperkuat keyakinannya, karena kejantanan orang ini sudah keras begitu menyentuh wajahnya. Sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat. Antisipasi bercampur dengan kekhawatiran. Apakah orang ketiga ini adalah Johnny? Dibandingkan dua orang sebelumnya, Taeyong menghabiskan waktu lebih lama. Wajah tirusnya mengusak kanan dan kiri, memetakan bentuk serta dimensi alat kelamin di depannya. Sensori di area dagu serta hidung pun dipergunakan. Kepala penis yang mengeras dibiarkannya menyentuh sudut bibir. Ujung lidahnya bahkan ia pergunakan untuk mencecap samar.

 

Namun, akhirnya Taeyong kembali beranjak. Kembali mengujar, "Bukan," walau kali ini diwarnai keraguan.

 

Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika ia sampai di orang ketujuh dan tidak berhasil menebak Johnny? Apa Johnny akan sedih? Atau kecewa?

Ia akan meminta hukuman dari kekasihnya bila hal itu sungguh terjadi.

 

Untungnya, tidak ada batasan waktu yang disebutkan. Jadi Taeyong bisa sejenak menarik napas dalam untuk menenangkan diri dan mengingat organ intim Johnny yang amat dicintainya, sebelum beranjak pada orang keempat.

Sudah separuhnya, dan hanya tersisa tiga orang lagi jika orang ini pun ia nyatakan bukan Johnny. Yang mana semakin ia 'meraba' dengan wajahnya, semakin kecil kemungkinannya adalah Johnny. Taeyong bahkan membiarkan penis orang itu menyapu pipi hingga pangkal rahangnya, agar ia bisa memperkirakan panjang batang kelaminnya. Mensimulasikan bilamana ia memasukkan organ itu ke dalam mulutnya.

Bukan.

 

Ia kembali menyuarakan jawabannya dengan yakin, namun juga diwarnai kecemasan yang perlahan membelit leher.

 

Di mana Johnny?

Bagaimana jika mereka mengerjainya dan tidak ada Johnny di antara tujuh orang ini?

Atau, bagaimana jika ia sungguhan sudah melewati Johnny dan salah menebak?

 

Pikiran kalut yang meletup-letup dalam benaknya ini seketika menguap saat tanpa sadar ia sudah merangsek pada orang kelima dan pipi tirusnya menyentuh penis yang sudah menegak dan tiba-tiba saja berdenyut.

 

Huh?

 

Ia mengusak pipi pada batang kejantanan yang hangat itu, dan lagi-lagi jalinan ototnya berdetak. Seolah balas menyapa.

Dan Taeyong tersenyum.

 

Aah. Ini penis kekasihnya. Begitu mudah bereaksi pada sentuhannya.

 

Ia, namun, tidak langsung menyuarakan tebakannya. Alih-alih menghabiskan waktu cukup lama untuk menelusuri organ intim itu dengan wajahnya. Bahkan, bibirnya memberi kecupan samar di beberapa titik. Mengulum senyum kala menyadari getar halus di antara sentuhannya.

 

"Ini Johnny." Setelah beberapa saat, akhirnya ia berujar. Dan penis hangat itu kembali berdenyut.

 

"Kau yakin, Hyung? Gak mau periksa sampai akhir?"

Taeyong menggeleng. "Ini Johnny," ia mengulang. Begitu yakin. Seolah ingin membuktikan keputusannya, lidahnya terjulur untuk menjilat batang gemuk milik kekasihnya. Bukan hanya sapaan singkat di ujung, melainkan sapuan penuh yang membalut satu putaran hingga semua yang berada di dekatnya bisa menyaksikan. Ia tidak memberi Johnny kesempatan untuk bereaksi sebelum memasukkan puncak penisnya ke dalam mulut dan menghisapnya pelan.

 

"Woah woah Hyung! Kau sungguh yakin itu Johnny-hyung? Bagaimana kalau bukan?"

"Aaah Johnny-Hyung jangan marah!"

"Hyung! Johnny-hyung sedih karena kau salah!"

 

Seruan-seruan di sekitarnya itu terdengar konyol dan dengan mudah diabaikannya. Taeyong hanya bergumam samar di antara hisapan. Tidak mungkin ia salah. Rongga mulutnya telah begitu mengenal bentuk kepala penis kekasihnya ini.

Taeyong lalu mendorong kepalanya lebih jauh, memasukkan batang kejantanan itu hingga menyentuh katup kerongkongan.

Tindakan yang kembali mengundang seruan rusuh di sekitarnya.

Ia kembali mendengungkan gumaman sebelum merilekskan lehernya, hingga organ yang berdenyut itu melewati kerongkongannya. Taeyong terus mendorong, walau air mata mulai merembes di kain penutupnya. Saat hidungnya menyentuh pangkal selangkangan, barulah ia melepaskan penis itu dari mulutnya, membiarkan organ itu membentur pipinya, basah oleh saliva dan pre-cum. Ia terbatuk sejenak akibat aliran napas yang sempat terhenti. Tidak lama, namun, mulutnya kembali mencari pucuk penis kekasihnya. Kembali mengemutnya serupa permen.

Bilapun ada kasak-kusuk ataupun erangan di sekitarnya, Taeyong tidak mempedulikan. Ia mengulangi gerakannya memasukkan organ masif itu melewati kerongkongan dalam beberapa percobaan. Membiarkan kepala tumpulnya membentur dinding leher hingga air matanya mengalir. Beruntung ia tidak memiliki gag reflex hingga ia hanya perlu mengatur napas melalui hidung saat salurannya tersumbat. Memainkan lidah sebelum paru-parunya berontak dan ia terpaksa menarik kepalanya menjauh.

Erang keras ia perdengarkan saat merasakan penis Johnny berdenyut-denyut aktif.

Walau dengan wajah yang basah oleh air mata dan liur yang lolos dari sela bibir, Taeyong terkekeh di antara hisapannya.

Getar pita suara yang ia yakin semakin menstimulus Johnny. Hingga ia merasakan jemari kokoh mencengkeram helai merah jambu dan seolah menahan kepalanya. Topangan yang ia apresiasi karena dengan kedua tangan terikat dalam posisi berlutut yang entah sudah berapa lama ini, ia mulai kebas dan nyaris oleng. Agak sulit menjaga posturnya untuk memuaskan Johnny.

Taeyong mengecup dan menjilat kepala penis itu, mencecap likuid bening yang terus mengalir serupa pipa bocor. "Johnny...." Ia memanggil dengan suara lembut yang hanya ia berikan pada pria itu.

Erangan rendah dari pangkal tenggorokan yang ia terima, bagai melodi yang membuatnya kembali terkekeh. Serupa validasi serta izin yang disambutnya dengan sukacita.

Taeyong kembali memasukkan batang kemaluan itu ke dalam mulutnya. Namun, ia tidak lagi berusaha mendorongnya melewati kerongkongan. Alih-alih ia membiarkan giginya menggaruk samar muka kulitnya yang berotot.

Erang, getar, serta sodokan yang ia terima, disambutnya dengan dengung senang dan erangan senada. Respon yang membuatnya seratus persen yakin milik Johnny-lah yang sedang dimanjakannya ini. Begitu keras. Berdenyut liar membentur rongga mulutnya. Seolah putus asa mencari friksi demi mencapai puncak kenikmatan. Taeyong yakin kekasihnya sudah berada di ujung pertahanan.

Kondisi yang tak jauh berbeda dengan miliknya yang terhimpit di balik celana.

Oh, betapa ia begitu ingin membebaskan penisnya dan menggaruknya pada sesuatu. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa-apa soal itu. Pun saat ini fokusnya adalah milik Johnny.

Taeyong menelusuri muka kulit yang baru saja digaruknya itu dengan sapuan lidah. Sebelum menarik kepalanya hingga hanya ujung penis Johnny yang tertinggal. Bersandar di ujung bibirnya yang pastilah membengkak. Ia mengecup dan mendengungkan nama kekasihnya. "Come for me, Love."

Pada puncak gemuk yang pastilah memerah seolah marah, Taeyong menggigit pelan. Tidak menggaruk, namun cukup memberikan tekanan. Singkat, sebelum belah bibirnya kembali menghisap. Lidah bermain di celah saluran hingga ia merasakan pinggul kekasihnya menghentak. Disusul erang rendah yang bergaung di ruangan. Lantunan nada yang begitu ia cintai, menemani pancaran likuid pekat yang diterimanya dengan mulut terbuka.

Taeyong tahu Johnny akan menyukai bagaimana ia terlihat saat ini. Berlutut dengan lidah terjulur sementara Johnny melukis wajahnya dengan semburan mani.

Tepat setelah ia menelan cairan pekat itu, ia merasakan bibirnya dilumat. Bersamaan dengan penutup matanya yang dibuka. Cahaya lampu yang mendadak menyapa pupil membuatnya memejamkan mata. Berfokus pada sapuan lidah dan bibir lembut Johnny yang menciumnya penuh hasrat.

"Kau suka membiarkan mereka menonton?" Di antara cumbuan, Johnny menggerungkan tanya. Ditemani gigitan di bibir bawah yang membuat Taeyong merintih. Tubuhnya bergetar, seolah baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

"Karena... Kau juga suka..." Dengan napas terengah, Taeyong menyahut. Ia mengerang, protesan samar karena tangannya masih terikat di belakang punggung, membuatnya tak bisa memeluk kekasihnya. Erangan yang semakin nyaring saat tangan besar Johnny menangkup selangkangannya. Telapak tangannya mencipta friksi hingga tanpa sadar pinggulnya menghentak, mengejar sensasi yang begitu didamba.

Sementara satu tangan melingkari pinggang dan menopangnya, Johnny membuka risleting celana Taeyong dan menyelipkan tangannya ke sana. Begitu Taeyong yakin matanya telah terbiasa dengan cahaya dan memutuskan untuk membuka mata, Johnny menyambutnya dengan seringai puas.

"Kau sudah keluar?"

Alih-alih menjawab, tubuh Taeyong kembali bergetar. Ia tidak sadar telah mencapai klimaks dan membasahi celananya sendiri sebelum Johnny menyentuhnya. Namun, penisnya masih keras, ia begitu yakin sementara kembali menyentak pinggulnya pada tangan Johnny. Johnny memijatnya dalam tempo konstan, menarik-narik pelan, memanfaatkan lubrikan alaminya untuk membantu gerakan.

Tidak butuh waktu lama hingga Taeyong kembali mencapai klimaks. Dengan tangan masih terikat, punggungnya membusur, melengkung begitu indah sementara erang dan desah meluncur dari bibirnya.

Telah mencapai klimaks dua kali dalam waktu berdekatan seolah menyedot energinya. Taeyong menyandarkan kepala di ceruk leher Johnny sementara napasnya menderu. Rambut merah mudanya mencuat ke berbagai arah, basah oleh keringat.

Johnny menghujani wajahnya dengan kecupan. "Kau melakukannya dengan baik, Taeyongie. Kerja bagus."

Mereka lantas bercumbu dalam gerak lambat. Tidak terburu oleh nafsu, namun sensual, ditemani hisapan-hisapan pelan.

"Kau sadar mereka masih di sini, kan?" Kekasihnya lantas berbisik. Kini menjilat dan menggigit cuping telinganya. "Apa kau ingin mereka lanjut melihat? Seberapa baik tubuhmu menerimaku?"

Lewat ekor mata, ia melihat berpasang mata terpaku pada mereka. Sebagian membeku, sebagian telah menyentuh milik mereka sendiri, sementara satu-dua pasangan tengah bercumbu dan bertaut seolah tak ingin kalah. Taeyong mengerang keras. Terlebih saat Johnny merapatkan pinggul mereka, bagai ingin memberitahu betapa kejantanannya telah kembali mengeras.

Taeyong tahu kekasihnya selalu ingin melakukan ini. Untuk mereka melakukan seks di depan publik. Di tengah pesta yang telah berubah haluan sedemikian rupa, siapalah ia untuk menolak? Terlebih karena Johnny menatapnya dengan mata berkelip penuh antisipasi, sementara penis mereka bergesekan samar.

"Oke," Taeyong mengecup bibir penuh Johnny. "Tapi lepasin dulu iketannya." Bibirnya menekuk dalam rengutan. Ia ingin memeluk kekasihnya.

Ngomong-ngomong, karena ia berhasil menebak Johnny dengan benar, bukankah seharusnya ia menerima hadiah?

-----------
~Fin