Actions

Work Header

Sorry for Being Dense

Work Text:

Peringatan : karya newbie

Selamat membaca.

 

Kazuya yakin dunia akan segera berakhir. Pasti. Atau minimal akan terjadi bencana besar, mungkin gempa atau tsunami yang sudah menjadi ciri khas bencana di Jepang.

"Jangan berlebihan." Youichi memutar bola mata, meski pandangan tak lepas dari laptopnya dan jemarinya tak berhenti mengetik. Deadline tugas essay sialan yang sedang dikerjakannya tinggal seminggu lagi dan ia baru menyelesaikan setengahnya. "Apa yang aneh dari seseorang yang mencoba memasak dan bersih-bersih di tempat tinggalnya sendiri?"

"Hei, seseorang yang sedang kita bicarakan di sini itu Mei. Narumiya Mei." Kazuya ngotot, sampai menekankan nama sang housemate. "Masa kau tidak heran sedikitpun, Mochi?"

"Jangan panggil aku Mochi, mata empat." Youichi berdecak, menekan tombol backspace beberapa kali.

Kazuya yang semula duduk bersila di ranjang Youichi kini menjatuhkan tubuhnya sambil mengerang pendek. Ia menatap langit langit kamar sang rekan. Tangannya masih memegang majalah sport yang belum selesai dibacanya sedari tadi lantaran tidak fokus. Ia masih ingat sekali saat bau gosong membuatnya terbangun tiba-tiba pukul enam pagi dua minggu yang lalu. Ia buru-buru keluar dari kamar meski matanya perih karena baru tidur dua jam setelah begadang mengerjakan tugas, mengira ada kebakaran.

Tidak ada asap tebal atau tanda kebakaran lainnya, tapi ada suara kelontang dan seseorang mengaduh dari dapur. Mengerutkan kening, Kazuya berjalan ke arah dapur. Mata mengantuknya mendapati sosok teman masa kecilnya berjongkok, menatap genangan coklat tua kental yang mengepulkan asap panas di lantai. Beberapa bongkahan gosong berendam di tengah genangan itu, sementara wajan dengan pantat menghitam tertelungkup di sampingnya.

"Mei?" Kazuya mengucek mata tak percaya.

Mei menoleh, nyengir lebar tanpa merasa bersalah. "Pagi. Kau sudah bangun, Kazuya?"

"Kau benar-benar Mei?" Kazuya lupa perih di kelopak matanya. Mei sedang tidak mencoba memasak, kan? Mustahil seorang Narumiya Mei melakukan hal itu.

"Tunggu sebentar kalau kau mau menggunakan dapur. Aku harus membersihkan ini." Mei menunjuk kekacauan di depannya.

Kazuya mematung, tak mampu berkata-kata sementara Mei memungut bongkahan-bongkahan yang menghitam itu. Ia lalu berbalik pergi sambil bergumam, "aku pasti sedang bermimpi."

Ya. Kazuya yakin ia pasti sedang bermimpi. Mei yang ia kenal akan memaksa Kazuya memasak sesuatu ketika ia lapar, bukan mencoba memasak di awal pagi. Mei yang ia kenal akan merengek meminta Kazuya membersihkan kekacauan yang ia buat, bukan bertanggung jawab seperti tadi.

Saat bangun lagi empat jam kemudian dan membuat kopi panas di dapur, bongkahan gosong di tong sampah dapur menyadarkan Kazuya kalau tadi pagi ia tidak bermimpi. Sebagai gantinya ia mulai berpikir kalau ada sesuatu yang salah dengan kepala pirang Mei, terlebih saat ia melihat temannya itu melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya tiga hari kemudian.

Kali ini Mei menyingkirkan telur gulung percobaannya yang teronggok di meja makan setelah memuntahkan gigitan pertamanya. Kazuya yang penasaran meraih salah satu potongan telur gulung tersebut.

"Jangan salahkan aku kalau kau muntah." Mei memperingati.

Satu gigitan dan Kazuya berlari ke wastafel, berkumur dari rasa asin yang sangat kelewatan dan sensasi remukan kasar seperti pasir di dalam telur yang digigitnya. Ia tak habis pikir Mei bahkan tak bisa memecah telur dengan benar.

Kazuya belum berkomentar, mengira Mei akan menyerah dengan percobaannya, juga menunggu Mei sendiri yang bercerita tentang alasannya.

Tapi ternyata Kazuya salah. Mei berkutat lagi di dapur dua hari kemudian. Tak sampai di situ pengalaman horornya, ia mendapati vacuum cleaner teronggok di depan kamar si pirang saat ia memutuskan untuk membiarkan Mei melakukan percobaannya dulu dan tak mengganggunya dengan komentar atau apapun.

Jadi selain mencoba memasak si pendek itu juga mencoba bersih-bersih?

"Gagal lagi?" Kazuya mencoba simpati saat menghampiri Mei yang duduk memeluk lutut dan bantal sofa di depan televisi, tapi ia tak bisa menghentikan cengiran geli yang mengangkat sudut bibirnya.

Mei mendelik. "Tertawa saja kalau mau tertawa."

Lalu tangan pucat sang blonde mengaduk es krim yang sudah mencair di wadahnya. Kalau sampai mengabaikan es krim, anak itu pasti sudah frustasi.

Kazuya tertawa dengan kurang ajarnya, dalam hati masih kukuh menunggu Mei sendiri yang bercerita tanpa ditanya.

Meski percobaan-percobaan setelahnya masih berlanjut, juga dengung vacuum cleaner yang terkadang didengarnya.

"Mungkin dia naksir seseorang yang bilang ingin makan masakan buatannya," celetuk Youichi sambil bangkit dari kursinya.

"Mana mungkin." Kazuya mengerang lagi, menutup wajahnya dengan majalah. Kalau hanya karena itu buat apa Mei juga mulai bersih-bersih.

"Hyahaha ... Selamat berpikir kalau begitu. Aku mau ambil minum." Youichi menutup pintu.

Iya. Mana mungkin Mei jatuh cinta seperti yang dikatakan Youichi barusan. Valentine tiga minggu lalu saja ia memberi cokelat home made pada kazuya. Bukan memberikan langsung, karena tidak mungkin ego Mei yang setinggi langit itu mengizinkan. Hanya saja Kazuya mendapati bungkusan sederhana di antara kemasan-kemasan bagus cokelat lain yang berjejalan di dalam ranselnya ketika ia kembali dari toilet.

Bentuknya hancur dan rasanya agak pahit. Kazuya nyaris membuangnya kalau tak melihat pesan 'kau harus menghabiskannya, brengsek.' di kertas kecil yang tersisip. Jangan tanya kenapa Kazuya yakin kalau coklat gagal itu dari teman se-apartment-nya sendiri.

Suara bel share house yang ditinggali Youichi terdengar. Kazuya tak peduli siapa yang datang. Itu urusan Youichi. Ia masih tak mengerti dengan berubahnya Mei. Bahkan ia tak mengerti harus senang atau tidak karena si pirang itu mencoba mandiri.

Kazuya baru akan basa-basi bertanya siapa yang datang saat mendengar pintu kamar Youichi dibuka, tapi seruan berisik sudah mendahuluinya.

"MI ... MIYUKI KAZUYA??! KENAPA KAU DI SINI?!"

Kazuya menatap lelah bocah hiperaktif yang menganga di ambang pintu. "Memangnya aku tidak boleh di sini? Dan jangan memanggil nama lengkapku."

"Hmp ... Terserah aku ingin memanggilmu bagaimana."

"Yeah yeah ... Terserah kau, Bakamura."

"HEY ... APA-APAAN ITU??! NAMAKU SAWAMURA BUKAN BAKAMURA!"

Kazuya tertawa puas. Respon Eijun selalu menghibur. "Kau sendiri, kenapa kemari?"

"Dia mengembalikan pakaianku yang dia pinjam saat kehujanan." Youichi menjawab, kembali duduk di kursinya dan mengerjakan tugasnya.

"Kau suka hujan-hujanan atau bagaimana? Dasar bocah." Kazuya berkomentar iseng, menatap Eijun dengan kilatan jahil di matanya.

"AKU BUKAN BOCAH!!" Eijun menampik jengkel, tak peduli kalau Kazuya hanya berniat membuatnya kesal.

Astaga. Tidak bisakah anak ini bicara dengan nada normal? Kazuya pikir ia akan cepat tuli kalau tinggal dengan anak ini.

"Tapi kau suka hujan-hujanan?" Kazuya masih ingin menggodanya. " Beberapa minggu yang lalu kau juga mampir di apartment-ku karena kehujanan."

Oh ya, itu beberapa hari sebelum Mei membangunkannya dengan bau gosong, kalau Kazuya tidak salah ingat. Kazuya mendesah kecil, kembali memikirkan Mei, agak tidak mendengarkan saat Eijun menjawab perkataannya barusan dengan alasan lupa membawa payung. Lalu ia beranjak.

"Kuramochi, aku pulang dulu."

"Uh? Yeah."

Saat sampai di apartement, Kazuya mendapati Mei sedang menjalankan vacuum cleaner di ruang tamu. Ia tersenyum miring, mendapati ide yang entah kenapa ia ingin dicobanya.

"Tadaima," ucapnya, menahan geli yang menggelitik di perut.

Belah bibir Mei terbuka, hendak mengucapkan sesuatu, tapi lalu ia menutup mulutnya.

"Tidak ada okaeri?" Kazuya menelengkan kepala, pura-pura inosen.

Death glare menusuk langsung dari sepasang berlian safir Mei. "Jangan harap. Memang aku gadismu?"

Kau bisa jadi pemudaku, jawab Kazuya dalam hati. Ia tertawa. "Padahal tadi kau hampir mengatakannya."

"Aku tahu kau sengaja, sialan."

Sampai detik ini Kazuya masih menahan rasa penasarannya tentang alasan perubahan Mei. Dan Kazuya masih menunggu Mei berbicara.

Tapi tidak lagi saat ia mendapati beberapa brosur penyewaan apartment di atas nakas di kamar Mei. Ia membeku, tidak ingin berpikir Mei ingin pindah dari sini dan menyewa sendiri. Mei juga membeku saat memasuki kamarnya dan mendapati Kazuya menggenggam brosur-brosur itu.

Kazuya tidak menoleh, meski tahu Mei di ambang pintu. "Mei ... Kau ingin pindah dari sini?"

"Uh ... Baru rencana." Mei tidak tahu kenapa ia merasa bersalah padahal tak melakukan sesuatu yang salah. "Aku ... Lupa mengatakannya padamu."

Tentu saja bohong. Baik Mei dan Kazuya tahu kalau Mei barusan berbohong. Kazuya meremas brosur-brosur di tangan kirinya.

"Hei ... Apa yang kau lakukan, Kazuya?!" Mei melangkah cepat, mendekati Kazuya yang berdiri di samping nakasnya. Tapi begitu ia meraih lengan Kazuya, ia justru didudukkan di atas ranjang. Kazuya sendiri duduk di atas nakas, dan Mei baru sadar ada kantong kertas berwarna putih polos di tangan kanan pemuda itu.

"Apa-apaan, Kazuya?" Mei mengerutkan kening tak mengerti.

Kazuya menghela nafas. "Kau yang apa-apaan. Sudah berapa minggu kau bertingkah aneh? Kau kenapa, sih? Tahu-tahu mencoba memasak dan bersih-bersih, tahu-tahu ingin pindah rumah ...."

"Hei, kau tidak protes sebelumnya. "Lalu Mei cemberut sambil membuang pandangan ke lantai. "Memangnya aku tidak boleh mandiri?"

"Mana mungkin kau ingin mandiri." Kazuya memutar bola mata. Mei mendelik sebal tapi tak menyanggah. Kazuya menatapnya lama.

"Kucolok matamu, Kazuya." Ancam Mei.

"Katakan dulu alasanmu."

"Aku bilang ingin mandiri kau tidak percaya."

"Serius, Mei. Jangan pikir aku bisa menerima alasan itu." Kazuya mendesah. "Atau kau sedang jatuh cinta?"

Youichi mungkin benar. Mungkin Mei ingin tinggal bersama orang yang disukainya dan tidak ingin Kazuya mencampuri urusannya.

"... Hah?" Mei melongo. "Kau bicara apa, sih?"

"Ah, sudahlah. Ini ..." Kazuya menyodorkan kantong kertas di tangannya. "Aku tidak sabar menunggu white day, jadi kubalas sekarang."

"Huh ... Apa?" Mei menatap kantong itu tidak percaya.

"Apa? Jangan bilang 'aku tidak memberimu cokelat', aku tidak akan percaya."

"... Kau membalasnya?" Mei masih menolak percaya. "Bukannya ... Kau suka Sawamura?"

Kali ini Kazuya yang mengerjap bingung. Apa kata Mei barusan? Ia menyukai Bakamura? Dari mana Mei mendapatkan berita itu?

"Hei, kenapa kau menatapku seperti aku orang terbodoh di dunia, sih? Jangan salahkan aku berpikir seperti itu kalau kau sebegitu senangnya saat kau membawa Sawamura kemari karena kehujanan." Mei merebut kantong kertas di tangan Kazuya.

Huh? ... Tunggu sebentar. Kazuya diam, menatap Mei sambil memikirkan implikasi perkataan Mei barusan. Sesaat kemudian ia terbahak keras sampai memegang perutnya. Beruntung ia tidak jatuh dari nakas.

"Kazuya, kau oke?" Mei makin tak mengerti. Kazuya susah payah menghentikan tawanya.

"Astaga, Mei. Kau ... Kenapa tidak bilang saja kau cemburu?" Kazuya tertawa lagi. Sudut matanya sudah berair. "Malah lari dan mau tinggal sendiri."

"Kazuya idiot." Jengkel bercampur malu, Mei melempar bantal ke wajah Kazuya. Lalu ia melanjutkan dengan suara lirih. "Memangnya aku punya hak mengatakannya?"

Kazuya menghela nafas lega. Ia turun dari nakas dan menjatuhkan diri di ranjang Mei, seraya menarik pinggang Mei sampai berbaring bersamanya. Mei merasakan wajahnya memanas saat kepala brunette Kazuya menelusup di celah lehernya.

"Oi, Kazuya."

"Diam. Aku mengantuk." Kazuya bergumam. Suaranya begitu dekat sampai Mei meremang. Perlahan Mei meletakkan cokelat pemberian Kazuya di atas nakas.

Mungkin karena lelah karena tertawa barusan, atau terlalu lega karena Mei tidak sedang jatuh cinta dengan orang lain, Kazuya mulai merasa mengantuk. Nanti ia akan bilang pada Mei untuk berhenti mencoba memasak. Ia tak perlu Mei memaksakan diri untuk dewasa atau mandiri. Ia tak keberatan dengan Mei yang manja dan bossy. Tak peduli kalau setelah ini Mei akan merengek macam-macam padanya.

 

End.